PEMBAHASAN KE TIGA
Pembaca dan penghapal Quran terbaik sudah tentu adalah Nabi
Muhammad SAW, seperti dalam firman‐Nya QS Al‐Qiyamah : 17. Selama dua puluh
tahun lebih Alquran turun, terkadang hanya satu ayat sehari terkadang bahkan
sampai sepuluh ayat sehari. Setiap kali turun Nabi SAW dan para sahabat sangat
antusias dalam membacanya, menghafal, dan mengamalkannya. Khusus masalah
penghafalan, Nabi SAW secara rutin mendapat kunjungan pada bulan ramadhan untuk
membacakan Alquran kepada sang Nabi SAW. menurut para sahabat ketika waktu
kunjungan Jibril ini Rasulullah SAW sangat pemurah, lebih pemurah dari
hari‐hari yang lain. Di masa Nabi lahirlah para qari dan hafiz, bukan sekedar
karena bangsa Arab adalah masyarakat penghapal yang kuat namun lebih karena
dimotivasi oleh keagungan, keindahan dan manfaat yang terkandung dalam
Kalamallah ini. Walaupun bangsa Arab dulu dikenal sebagai bangsa yang ummi
(buta huruf) namun jangan salah mengira kalau seluruh orang Arab buta huruf,
beberapa sahabat sudah masyhur sebagai penulis yang baik, apalagi dalam masa
kepemimpinan Rasulullah SAW kemampuan menulis bangsa Arab ini mengalami
kemajuan yang pesat. Rasul sangat mendorong dan memfasilitasi para sahabat dan
ummatnya untuk belajar tulis baca, misalnya saja dengan memberi kebijakan yang
berbeda tentang tawanan perang yang memiliki kemampuan baca tulis, biasanya
penebusan tawanan hanya dengan cara tukar tawanan dan dengan sejumlah uang atau
harta namun Rasul membebaskan para tawanan ini dengan kewajiban mengajar baca
tulis kepada beberapa orang ummatnya. Ketika Rasulullah SAW wafat ummatnya
tidak lagi mengalami kekurangan orang yang ahli baca tulis.
Alat tulis dan media tulis ketika itu memang masih sulit,
sehingga mereka menggunakan apapun seperti lempengan batu, tulang binatang,
kulit kayu, dsb. Selain media tulis yang lazim ketika itu seperti kulit
binatang atau kertas. Rasulullah SAW menunjuk beberapa sahabat sebagai
sekretaris khusus untuk penulisan Quran, Nabi memberi petunjuk untuk menulis
ayat yang turun dengan menyebutkan posisi oenulisannya, misalnya dengan redaksi
: “Tulislah ayat ini setelah di surat...,sesudah ayat,...dan sebelum
ayat....”
Para ulama siroh beorang sahabat iasanya membagi proses
pengumpulan dan penertiban Alquran ini kedalam tiga periode, yaitu :
1.
Penghafalan dan pembukuan yang pertama di masa Nabi
SAW.
2.
Pengumpulan Quran pada masa Abu Bakar ra.
3.
Pengumpulan Quran pada masa Ustman ra.
Pada materi sebelumnya sudah dituturkan bahwa Quran telah
dihapal oleh banyak sekali sahabat dan ditulis dalam segala media yang tersedia
ketika itu mulai dari kulit, tulang, batu sampai kertas.
Pada masa khalifah Abu Bakar ini terjadi peristiwa
pemberontakan besar yang dilakukan oleh beberapa daerah yang murtad terhadap
Islam, suatu ketika terjadi peperangan di daerah yamamah dan melibatkan banyak
para sahabat yang hapal Alquran. Ternyata dalam peperangan ini tujuh puluh qari
dari kalangan sahabat gugur, hal tersebut mencemaskan sahabat Umar bin Khatab
ra. Ia khawatir akan musnahnya Alquran dengan cara kehilangan para
penghapalnya. Oleh karena keprihatinan itulah Umar ra mengusulkan kepada
khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan Alquran dalam bentuk sebuah buku. Mulanya
sang khalifah sempat bimbang karena hal ini tak pernah diperintahkan Rasulullah
SAW secara langsung, namun akhirnya beliau menyetujuinya.
Khalifah Abu Bakar memerintahkan seorang sahabat yang
memiliki kedudukan yang mulia dalam hal
Qiraat, hafalan, penulisan dan pemahamannya t erhadap Quran
untuk memimpin proyek penting ini.
Langkah ini disetujui oleh semua sahabat Nabi yang hidup
pada masa itu.
Kemudian tim yang diketuai oleh sahabat Zaid bin Sabit
mulai bekerja, mereka kumpulkan tulisantulisan ayat‐ayat Quran yang
terpencar‐pencar dari tulang‐tulang, pelepah kurma, kepingankepingan batu dan
mereka juga ambil dari para penghafal‐penghafal Quran. Kehati‐hatian Zaid
sangat nyata terbukti dari bahwa Ia tidak mau menerima dari seseorang mengenai
Qur’an sebelum disaksikan oleh dua orang saksi. Ada juga ulama siroh yang
berpendapat bahwa Zaid hanya menerima Quran apabila orang itu memiliki catatan
dan juga telah menghapal apa yang ia catat tersebut.
Zaid bin Sabit sebenarnya adalah juga seorang penghapal
tapi hal ini tidak mengurangi kehati‐hatian dan kecermatannya ia melakukan
pengumpulan Quran dari semua orang yang memiliki catatan dan menghafalnya.
0 komentar:
Posting Komentar