KELOMPOK EMPAT
PENGUMPULAN AL-QUR’AN PADA MASA KHULAFAUR RASYIDIN
Al- qur’an di zaman Nabi belumlah dihimpun menjadi
satu, sebab Nabi belum memerintahkanya dan menjaga apabila turun wahyu lagi
yang akan diterimanya. Setelah Rasulullah saw wafat. Estafet dakwah dilanjutkan
oleh para Khulafaur Rasyidin. Pada masa ini, pengumpulan dilakukan dalam dua
periode, yaitu : Abu Bakar Ash- Siddiq dan Utsman bin Affan.
a) Pembukuan Al-Qur’an Pada Masa
Abu Bakar
Pada dasarnya, seluruh Al-Quran sudah ditulis pada
wktu Nabi masih ada. Hanya saja, pada saat itu surat-surat dan ayat-ayatnya
ditulis dengan terpencar-pencar. Dan orang yang pertama kali menyusunnya dalam
satu mushaf adalah Abu Bakar Ash-Siddiq. Oleh karena itu, Abu ‘Abdillah
Al-Muhasibi berkata dalam kitabnya, Fahm As-Sunan, “penulisan Al-Quran bukanlah
sesuatu yang baru. Sebab, Rasulullah pernah memerintahkannya. Hanya saja, saat
itu tulisan Al-Quran berpencar-pencar pada pelapah kurma, batu halus, kulit,
tulang unta, dan bantalan dari kayu. Abu Bakar kemudian berinisiatif menghimpun
semuanya
Kaum
muslimin melakukan konsensus untuk mengangkat Abu Bakar Al- Siddiq sebagai
khalifah sepeninggalan Nabi Saw. Pada awal masa pemerintahan Abu Bakar, terjadi
kekacauan akibat ulah Musailamah al- Kazzab beserta pengikut- pengikutnya.
Mereka menolak membayar zakat dan murtad dari islam. Pasukan yang dipimpin
Khalid bin Walid segera menumpas gerakan ini. Peristiwa tersebut terjadi di
Ymamah tahun 12 H. Akibatnya banyak sahabat yang gugur, termasuk 70 orang yang
diyakini telah hafal Al- qur’an.
Kejadian
tersebut dikritisi oleh Umar bin Khattab. Ia khawatir peristiwa yang serupa
akan terulang kembali. Sehingga semakin banyak golongan huffadz yang gugur.
Bila demikian,”masa depan” Al- qur’an menjadi terancam. Maka muncul ide
kreatif Umar yang disampaikan kepada Abu Bakar Al- Siddiq untuk segera
mengumpulkan tulisan- tulisan Al- qur’an yang pernah ditulis pada masa
Nabi.Semula Abu Bakar keberatan atas usul Umar. Tetapi Umar berhasil
meyakinkanya. Maka dibentuklah sebuah tim yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit
dalam rangka merealisasikan mandat dan tugas suci tersebut. Pada mulanya,
Tsabit pun
merasa keberatan, akan tetapi dapat pula diyakinkan. Abu Bakar memerintahkan
Zaid bi Tsabit, melihat kedudukanya dalam masalah qiraat, hafalan, penulisan,
pemahaman dan kecerdasanya serta kehadiranya pada pembacaan yang terakhir kali.
Zaid bin Tsabit memulai dengan bersandar pada hafalan yang ada dalam hati para
qurra’dan catatan yang ada pada para penulis. Kemudian lembaran-lembaran itu
disimpan abu Bakar. Setelah ia wafat pada tahun 13 H, lembaran- lembaran itu
berpindah ke tangan Umar selaku khalifah kedua dan tetap berada di tanganya
hingga ia wafat. Kemudian mushaf itu berpindah ke tangan Hafsah, puteri Umar.
Dari rekaman
sejarah diatas, maka dapat diketahui bahwa Abu Bakar Al- shiddiq adalah orang
pertama yang memerintahkan penghimpunan Al-qur’an, Umar bin Khatab adalah
pelontar idenya, serta Zaid bin Tsabit adalah pelaksana pertama yang melakukan
kerja besar penulisan Al- qur’an secara utuh dan sekaligus menghimpunya kedalam
satu mushaf.
Adapun
karakteristik penulisan al-qur’an pada masa Abu Bakar iniadalah :
1)
Seluruh ayat Al-qur’an dikumpulkan dan ditulis dalam satu mushaf
berdasarkan
penelitian yang cermat dan seksama.
2)
Meniadakan ayat- ayat yang telah mansukh.
3) Seluruh ayat yang ada telah diakui
kemutawatiranya.
4)
Dialek arab yang dipakai dalam pembukuan ini berjumlah 7 (qiraat)
sebagaimana yang dinukil berdasar riwayat yang benar- benar sahih.
Demikianlah
singkatnya riwayat Al- qur’an ketika dikumpulkan dan dihimpun menjadi sebuah
naskah. Peristiwa ini terjadi pada tahun ke 11 H.
b) Pembukuan Al- Qur’an Pada Masa
Utsman bin Affan
Latar
belakang pengumpulan Al- qur’an pada masa Utsman ra berbeda dengan faktor yang
ada pada masa Abu Bakar. Daerah kekuasaan pada masa Utsman telah meluas
dan daerah- daerah islam telah terpencar di berbagai daerah dan kota. Disetiap
daerah telah populer bacaan sahabat yang mengajar mereka. Penduduk Syam membaca
Al- qur’an mengikuti bacaan Ubay bin Ka’ab, penduduk Kufah mengikuti bacaan
Abdullah bin Mas’ud, dan sebagian yang lain mengikuti bacaan Abu Musa Al-
‘Asyari. Diantara mereka terdapat perbedaan tentang bunyi huruf, dan bentuk
bacaan. Masalah ini membawa mereka kepada pintu pertikaian dan perpecahan antar
sesama. Ketika penyerbuan Armenia dan Azerbaijan dari penduduk Irak, termasuk
Hudzaifah bin Al- Yaman.
Ia melihat
banyak perbedaan dalam cara- cara membaca Al- qur’an. Sebagian bacaan itu
bercampur dengan ketidakfasihan, masing- masing mempertahankan dan berpegang
pada bacaannya, serta menentang setiap orang yang menyalahi bacaanya dan
puncaknya mereka saling mengkafirkan. Setelah kejadian tersebut, Utsman dengan
kebenaran pandanganya bermaksud untuk melakukan tindakan pencegahan. Ia
mengumpulkan sahabat- sahabat yang terkemuka dan cerdik cendikiawan untuk
bermusyawarah dalam menanggulangi fitnah (perpecahan) dan perselisihan. Mereka
sepakat untuk menyalin dan memperbanyak mushaf kemudian mengirimkanya ke
segenap daerah dan kota. Ia menugaskan kepada empat orang sahabat pilihan, yang
hafalanya dapat diandalkan, yaitu Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubeir, Said
ibn Al- Ash dan Abdurrahman ibn Hisyam. Mereka semua dari suku Quraisy golongan
Muhajirin, kecuali Zaid bin Tsabit yang berasal dari kaum Ansor. Pelaksanaan
gagasan yang mulia ini dilakukan pada tahun 24 hijrah.
Utsman
mengatakan kepada mereka,”Bila anda sekalian menemui perselisihan pendapat
tentang bacaan maka tulislah berdasarkan bahasa Quraisy, karena Al- Quran
diturunkan dengan bahasa Quraisy,” Utsman meminjam mushaf Abu Bakar yang
disimpan oleh Hafsah binti Umar dan memerintahkan keempat orang sahabat
tersebut untuk menyalinya dan memperbanyaknya. Setelah mereka selesai menyalin,
naskah Hafsah tadi dikembalikan, dan salinan itu dijadikan 5 buah naskah, ini
menurut riwayat yang masyhur. Lima buah naskah mushaf Al- qur’an tersebut oleh
Utsman lalu dikirimkan sebuah ke Makkah, sebuah ke Syam, sebuah ke Kuffah,
sebuah ke Basrah, dan sebuah disimpan oleh beliau. Mushaf inilah yang sampai
sekarang kita kenal dengan sebutan Mushaf Utsmani.
Perbedaan
antara pengumpulan (mushaf) Abu Bakar dan Utsman adalah sebagai berikut.
Pengumpulan mushaf pada mada Abu Bakar adalah bentuk pemindahan dan penulisanya
Al- Qur’an kedalam satu mushaf yang ayat- ayatnya sudah tersusun, berasal dari
tulisan yang terkumpul pada kepingan- kepingan batu, pelepah kurma dan kulit-
kulit binatang. Adapun latar belakangnya karena banyaknya Huffadz yang gugur.
Sedangkan pengumpulan mushaf pada masa Utsman adalah menyalin kembali mushaf
yang telah tersusun pada masa Abu Bakar dengan tujuan untuk dikirimkan ke
seluruh negara islam. Latar belakangnya adalah perbedaan dalam hal membaca Al-
qur’an.
0 komentar:
Posting Komentar